Entri Populer

Kamis, 21 April 2011

MAKNA KEMATIAN DALAM ISLAM

Umat manusia hidup di dunia ini sangat terbatas dan tidak bertahan lama, bila 
dibandingkan dengan eksistensi alam semesta ini. Rata-rata kehidupan di dunia 
ini selama 63 tahun, sebagaimana usia Rasulullah Saw. Apabila ada orang yang 
dianugerahi usia lebih dari itu, maka itu merupakan bonus dari Allah Swt. 
Setiap manusia mesti mengalami akhir kehidupan itu, yang sering disebut dengan 
kematian. Hal ini dinyatakan secara tegas di dalam al-Quranul Karim pada S. Ali 
'Imran: 185; 
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah 
disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke 
dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah 
kesenangan yang memperdayakan."

Kematian ini merupakan salah satu bahasan ilmu Eskatologi yang termasuk cabang 
Teologi. Menurut Eliade, Eskatalogi termasuk bagian dari agama dan filsafat 
yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir 
zaman, seperti kematian, alam barzah, kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi 
yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari bangkit, pengadilan pada hari 
itu, dan sebagainya. Secara ringkas Barnhart menjelaskan "Eschatology is a 
doctrina of the last or final things, specially death, judgment, heaven and 
hell". Eskatologi ialah ajaran tentang akhir segala sesuatu, khususnya 
kematian, pembalasan, surga, dan neraka.

Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha 
menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang 
dikira aman. Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Hal ini secara 
tegas dikemukakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, S. An-Nisa: 78; 
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada 
di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." 

Agama Islam memang menganjurkan untuk berobat apabila menderita sakit dan 
melakukan upaya-upaya jangan sampai terjangkit penyakit dengan menjaga 
kebersihan badan, tempat, dan lingkungan. Rasulullah Saw. juga banyak 
memberikan petunjuk dan arahan dalam rangka menjaga kesehatan dan menghindari 
dari terjangkit penyakit, seperti sabda beliau:
"Apabila kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu negeri, maka kalian 
jangan masuk ke negeri itu. Sebaliknya, apabila kalian berada di suatu negeri 
di mana terjadi wabah penyakit, maka kalian jangan keluar dari negeri itu 
(maksudnya jangan sampai menularkan penyakit)." 

Beliau juga memerintahkan untuk menjauhi orang yang berpenyakit levra 
sebagaimana menjauhi singa. Bahkan, beliau juga melarang kita buang air di air 
yang digunakan orang banyak untuk mengambil air wudhu, 
mandi, atau lain-lainnya, juga buang air di jalan orang banyak dan di bawah 
naungan mereka. 

Namun demikian, kematian tetap akan mengejar kita, betapapun kesehatan yang 
kita usahakan berhasil. Namun demikian, kita memang tidak boleh menyerah kepada 
takdir tanpa ikhtiar. Seringkali kita melihat ada seseorang yang benar-benar 
kelihatan sehat bugar, tiba-tiba meninggal dunia. Jadi, kematian tetap akan 
menjumpai kita, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam S. Al-Jumu'ah: 8; 
"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh akan menemui 
kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib 
dan yang nyata, lalu dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". 

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kematian itu? Kematian merupakan 
sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali 
kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah 
kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan 
sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita 
kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha 
Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang 
yang meninggal dunia itu "berpulang ke rahmatullah" atau kita mengucapkan 
Innalillahi wainna ilaihi raji'un, yang artinya "sesungguhnya kita ini milik 
Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".

Pada dasarnya setiap manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali 
kehidupan. Kematian yang pertama ialah sebelum kita dihidupkan di muka bumi ini 
dan kematian kedua waktu kita mengakhiri kehidupan ini. Kehidupan pertama ialah 
waktu kita hidup di dunia ini yang bersifat sementara dan kehidupan kedua 
adalah waktu kita dibangkitkan di akhirat nanti. Allah Swt. menjelaskan hal itu 
dalam S. Al-Baqarah: 28; 
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah 
menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan-Nya, kemudian dihidupkan-Nya 
kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?". 

Dalam ayat tersebut digunakan kata fa artinya "lalu" yang menunjukkan langsung, 
amwatan fa ahyakum (tadinya mati lalu dihidupkan), dan digunakan kata tsumma 
artinya "kemudian" yang menunjukkan tidak langsung tetapi ada senggang waktu 
faahyakum tsumma yumitukum (dihidupkan kemudian dimatikan), yakni setelah 
beberapa tahun umurnya. Betapa indahnya gaya bahasa al-Qur'an yang sangat 
tinggi fashahah dan balaghahnya. 

Kematian merupakan awal atau pintu gerbang menuju kehidupan abadi sesuai dengan 
ayat di atas. Oleh karena itu, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa sesungguhnya 
kematian itu sebenarnya kehidupan. Artinya, jika seseorang ingin hidup terus 
menerus, maka ia harus mengalami kematian terlebih dahulu. Tanpa kematian tidak 
akan ada kehidupan abadi. Atau dalam istilah al-Qur'an, orang yang mati disebut 
"Kembali kepada Sang Pencipta". 

Dalam perspektif al-Qur'an, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di 
antara manusia. Dalam hal ini dikhususkan kepada manusia, karena manusialah 
yang diberi beban untuk menjalankan segala aturan yang telah ditetapkan 
kepadanya. Dengan daya nalarnya manusia dapat memilah dan memisahkan antara 
yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah 
dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana 
ditegaskan Allah dalam S. Al-Mulk: 2; 
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu 
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." 

Sementara itu, Rasulullah Saw. menggambarkan kehidupan dunia ini laksana 
ladang, addunya mazra'atul akhirah, ladang untuk menanam tanaman berdasarkan 
timbangan nalar manusia tadi. Jika di dunia ini kita menanam mangga, umpamanya, 
maka di akhirat nanti kita akan mendapatkan buah mangga. Sebaliknya, jika kita 
menanamkan kopi, maka akan tumbuh buah kopi juga. Apabila seseorang menanam 
kebaikan, maka akan memperoleh balasan kebaikan pula, yakni surga. Sebaliknya, 
apabila menanam kejahatan, maka buahnya juga kejahatan, yakni neraka. 
Mengingat penting persolan kematian yang berkaitan dengan akhirat, maka 
al-Qur'an banyak menyebutkan pesan-pesan tentang akhir segala sesuatu. 
Surat-surat Makiyah umumnya mengandung pesan-pesan ini. Hal ini dimaksudkan 
agar manusia sebelum mengamalkan ajaran agama, terlebih dahulu mempunyai 
motivasi untuk melakukannya, karena setiap apa yang dilakukan itu akan diberi 
balasan. Kemudian, keyakinan kepada hari akhirat menjadi bagian yang sangat 
esensial dalam beragama. Bahkan, dalam al-Qur'an pernyataan tentang keimanan 
kepada Allah senantiasa digandengkan dengan hari akhirat. Umpamanya, termaktub 
dalam S. Al-Baqarah: 62; 
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh maka 
mereka akan memperoleh pahala."
Eltri Syadriansyah ... 21/04/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar