Sejatinya, Hari Kesehatan Sedunia dapat membangkitkan partisipasi masyarakat dunia; khususnya bangsa Indonesia untuk terus meningkatkan taraf kesehatannya.
Sebab, kesehatan merupakan salah satu faktor penunjang bagi peningkatan kualitas hidup. Dengan adanya kesehatan yang memadai akan memberikan efek positif yang sangat simultan. Sehingga menumbuhkan kesehatan menjadi suatu anjuran yang tidak bisa dinafikan.
Terlebih, untuk hidup sehat juga merupakan anjuran dalam tafsir suci agama manapun. Sebab, dengan kesehatan yang dimiliki akan mampu berbuat kebajikan sebagaimana yang digariskan dalam agama. Setidaknya, dalam agama orientasi sehat untuk berbuat kebajikan sesama makhluk ciptaan Tuhan dan juga untuk meningkatkan intensitas ibadah kepada Sang Khalik. Demikianlah pentingnya kesehatan bagi manusia.
Bersamaan dengan itu pula, faktor kesehatan merupakan salah satu indikator bagi indeks kualitas pembangunan sumber daya manusia (dengan sebutan HDI : Human Development Index). Sebagai salah satu indikator, maka hal itu menjadi mutlak untuk terus ditingkatkan. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, maka akan semakin tinggi pula HDI-nya. Dengan demikian, yang terpenting adalah bagaimana membangun serta memformulasikan pembangunan manusia yang sehat.
Mewujudkan Keluarga Sehat
Formulasi pembangunan manusia Indonesia yang sehat dapat dimulai dari lingkungan yang kecil. Mulai dari dalam keluarga. Setiap anggota keluarga berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang benar dan praktis untuk hidup sehat. Bangsa yang sehat hanya bisa dibangun dari struktur masyarakat berkeluarga yang sehat. Semakin banyak keluarga yang bisa meningkatkan taraf kesehatannya, maka akan semakin baik pula tingkat kesehatan bangsa Indonesia.
Bersamaan dengan itu, diperlukan pula kerja sama yang baik untuk menciptakan keluarga yang sehat. Seluruh stakeholder, sejatinya, memberikan akses yang seluas-luasnya agar setiap anggota keluarga Indonesia ini dapat mencukupi kebutuhan kesehatannya dengan sempurna. Sebab, kesehatan akan menjadi masalah yang sangat krusial tatkala ada bagian dari warga masyarakat yang tidak mampu mencukupi kebutuhan kesehatan tersebut. Betapa tidak, terkadang biaya untuk bisa sehat diperlukan sangat besar. Tentunya, hal itu terjadi kalau efek dari suatu penyakit tersebut sudah sangat kronis. Tentulah akan sangat sukar untuk menyembuhkannya.
Namun, harus dipahami bahwa jauh sebelum itu, ada ungkapan yang menyatakan bahwa mencegah lebih baik mengobati, merupakan pepatah lama yang tetap up to date. Pepatah yang tidak pernah usang untuk menjadi petuah yang harus dipegang bagi setiap orang yang menginginkan terwujudnya kesehatan yang memadai bagi dirinya dan keluarganya.
Pembiasaan Diri di dalam Keluarga
Upaya pencegahan dapat dilakukan dari hal-hal yang sederhana dan mudah dengan sendirinya. Pola hidup sehat sesungguhnya bermula dari diri sendiri dan dilakukan dengan membiasakan sikap hidup sehat. Pembiasaan hidup sehat itu dapat dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Mulai dari masa kanak-kanak sampai pada orang tua.
Untuk kanak-kanak tentunya dapat dilakukan berbagai cara misalnya dengan membiasakan cuci tangan sebelum makan sesuatu, menyikat gigi, mandi, atau segala aktivitas yang berkaitan dengan diri pribadi. Semua itu bisa dilakukan. Bersamaan dengan itu, ada pula pembiasaan yang berupaya untuk pembersihan di lingkungan sekitar. Membuang sampah pada tempatnya, memperlakukan sampah sesuai dengan kondisinya; ataupun perilaku lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan yang bersinergi terhadap kesehatan. Sebab, sangatlah muskil kalau dari lingkungan yang tidak sehat akan hidup di dalamnya manusia yang sehat. Ini yang perlu menjadi perhatian dan dapat dilakukan dengan pembiasaan bagi kanakkanak sejak dini.
Selanjutnya, bagi para orang tua juga banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat keluarga tetap hidup sehat. Perilaku tidak sehat yang kelihatannya sepele tetapi sangat berbahaya adalah kebiasaan merokok, terlebih jika di dalam keluarga. Merokok, menurut sebagian orang, dianggap sebagai suatu perilaku lelaki (maupun perempuan) dewasa yang dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Itu asumsi yang sangat keliru. Sebab, merokok adalah perilaku yang kontradiksi dengan upaya peningkatan kesehatan anggota keluarga.
Terlebih lagi jika dipahami bahwa perokok pasif akan lebih menderita daripada perokok aktif. Artinya, orang yang tidak merokok di dalam keluarga dan terpapar asap rokok, maka bagi mereka akan sangat berisiko kesehatan. Tentulah sangat dipertanyakan hati nurani para orang tua (ayah dan ibu) yang dengan santainya merokok di dalam rumah. Sebab, yang akan merasakan dampak negatifnya adalah seluruh anggota keluarga. Terlebih lagi, bahaya yang ditimbulkan bagi janin yang ada di dalam kandungan. Janin akan sangat rentan terhadap paparan asap rokok. Kalau sudah begitu, apakah masih layak disebut sebagai orang tua (calon ayah dan ibu) kalau meracuni anaknya dengan paparan asap rokok. Mungkin, agak sukar menjawabnya.
Keluarga Sehat Investasi Bangsa
Kiranya yang terpenting dilakukan adalah bagaimana bisa menyehatkan seluruh keluarga Indonesia. Hal itu bisa dilakukan mulai dari diri sendiri, lingkungan terkecil, serta kebiasaan-kebiasaan hidup yang positif. Hal inilah yang secara kumulatif akan menjadi investasi bangsa untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang selama ini mendera Indonesia.
Investasi bangsa yang sangat berharga itu saat ini bernama kesehatan. Dan hal itu bermula dari setiap anggota keluarga yang ada di kolong langit Indonesia. Masing-masing anggota keluarga yang terakumulasi di dalam keluarga secara bersinergi untuk mewujudkan Indonesia yang sehat. Hal inilah yang semestinya menjadi perhatian bersama.
Oleh karena itu, mewujudkan keluarga yang sehat diperlukan upaya yang maksimal. Tidak hanya keluarga per keluarga, tetapi juga campur tangan pemerintah untuk memberikan fasilitas dan layanan kesehatan yang mudah, murah (kalau bisa gratis), dan berkualitas. Hal inilah yang menjadi tugas berat yang harus diemban pemerintah. Tentunya, hal ini akan lebih bersinergi jika dilakukan secara bersama oleh pemangku kepentingan di masyarakat. Pihak swasta maupun pihak lainnya menjadi kepedulian yang sangat tinggi. Dengan kebersamaan akan bisa mewujudkan kesehatan sebagai investasi untuk modal dasar pembangunan.
Penutup
Kiranya diperlukan upaya maksimal agar bisa terwujud formulasi pembangunan kesehatan yang efektif dan efisien sehingga pembangunan kesehatan mengena pada sasaran. Terlebih lagi, skala prioritas pembangunan provinsi Sumatera Utara adalah mewujudkan masyarakat Sumatera Utara yang tidak sakit. Semoga saja! ***
Penulis adalah PNS di Pemkab Serdang Bedagai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar